Antara Usaha dan Percaya

by - Desember 11, 2015

Hari ini,aku medapat pemahaman baru mengenai "usaha" dan "rasa yakin/percaya"


Bahwa,apa yang ku lakukan selama ini telah menyimpang dari hakikat yang sebenarnya.
Apa yang ku yakini ternyata hanyalah sebuah ekspetasi belaka,dan berbanding terbalik dengan realita.



Aku terlalu yakin semuanya bisa ku lewati dengan baik-baik saja. 
Meski ada hambatan,aku tetap bisa melewatinya.
Aku terlalu yakin bahwa usaha yang telah ku lakukan sejauh ini sudah cukup baik.
Aku terlalu yakin bahwa mereka akan menolongku, nanti
Aku terlalu yakin bahwa Allah SWT akan membantuku nanti..
Parahnya lagi, aku juga terlalu yakin dengan kemampuanku sendiri...

Aku berasumsi bahwa akulah yang terbaik...
Aku terlalu meremehkan orang lain, menganggap bahwa aku yang lebih pantas diposisi itu, menganggap bahwa usahaku lebih jauh besar dari usaha orang lain, menganggap remeh kemampuan orang lain.
ah betapa bodohnya aku disaat itu!

Entah lupa diri atau terlanjur terlena dengan nafsu dunia, aku lupa bahwa masih ada Allah SWT yang lebih berhak diatas ketentuan-ketentuan itu.
Aku lupa,bahwa Allah SWT lah yang menentukan pantas atau tidaknya aku berada di tempat itu, bukan manusia hina seperti diriku ini. Yang dengan seenaknya menilai orang tanpa mau melihat lebih dalam lagi.

Siapalah aku?
Hanya manusia sombong yang terlalu percaya dengan kemampuannya, terlalu yakin akan usahanya.Cuih! Ingin rasanya diri ini ku maki habis-habisan. 

sumber gambar: www.kabarmuslimah.com

Aku tak percaya lagi akan teori percaya diri dan segala macam bentuk hipotesanya.Sebenarnya,aku juga tak bisa menyalahkan teori itu. 
Namun, rasa percaya diri yang melewati ambang batas tentu akan berakibat fatal. 
Rasa percaya diri yang berlebihan akan membuat kita berpotensi memelihara sifat ujub, yaitu sifat yang mengagumi diri sendiri, merasa bahwa kita memiliki kelebihan yang tidak orang lain punya, lupa bahwa kelebihan yang kita miliki sejatinya hanya milik Allah sahaja.

Betapa tidak tau dirinya aku pada masa itu.
Terlalu berlebihan menilai diri sendiri. 
Hey Ayu, memangnya kau siapa?

Aku tau,setiap insan pasti akan berusaha untuk menjadi yang terbaik. 
Namun,apalah sebuah arti usaha bila hanya untuk pengakuan sosial semata? 
Apalah arti usaha bila hanya berupa pelampiasan akan ekspetasi yang belum tercapai? 
Apalah arti usaha bila hanya untuk menjatuhkan orang lain? 
Berlomba-lomba menjadi yang terbaik dengan cara menyakiti orang lain? 

"Hey,bung! Ini bukan ajang kompetisi, juga bukan ajang mencari siapa yang paling hebat, tapi ini adalah ajang untuk mengenal ilmu, mengais ilmu, menemukan ilmu, mempelajari ilmu, dan menerapkan ilmu itu demi kemaslahatan bersama".

Ada kutipan yang mengatakan bahwa,"Majulah,tanpa menyingkirkan orang lain. Naiklah tanpa menjatuhkan orang lain. Dan berbahagialah tanpa menyakiti orang lain." 




Suatu usaha itu tak bisa hanya dilihat sekali. 
Tak bisa bila hanya ditengok ala kadarnya saja. 
Tak bisa bila hanya dinilai dalam kurun waktu 1-2 tahun. 
Usaha itu kita yang merasakan. 
Apakah usaha yang akan kita kerahkan itu harus berpeluh keringat? Atau usaha tersebut lebih memilih menguras otak untuk memikirkan hal-hal diluar logika? 
Apapun usaha yang dilakukan, tetaplah ingat bahwa itu adalah karunia yang Allah berikan padamu Bukan kamu yang mampu, melainkan Allah lah yang memberikan kemampuan tersebut kepadamu.


Palembang,17 Desember 2015.

You May Also Like

0 Comments