Enam Puluh Lima Hari Terakhir di Penghujung Tahun

by - Oktober 28, 2020



Bukan kamu yang kuat, tapi Allah yang menguatkan.

Bukan kamu yang hebat, tapi Allah yang menghebatkan.

Bukan kamu yang mampu, tapi Allah yang memampukan.

Dan dirimu bukan siapa-siapa, jika bukan karena rahmat-Nya yang menjadikan kamu manusia seutuhnya.

Allah, terima kasih sudah menguatkanku dan memberikan aku kesempatan hingga aku masih mampu bertahan hingga saat ini.

Allah, maafkan aku yang terlampau sombong, mengira bahwa akulah yang selama ini kuat. Padahal, jika bukan karena Kau yang memberikan aku nikmat berupa akal dan ruh, aku hanyalah  seonggok daging tak berguna.


***

Pagi ini, aku mencoba kembali membuka selembar kertas yang sudah mulai usang. Selembar kertas yang sering mereka sebut dengan 'resolusi'. Aku masih ingat, tulisan di kertas itu aku tulis pada Desember tahun 2019 silam, tepat satu hari menjelang pergantian tahun masehi. 

Aku masih bisa merasakan euforia kala itu. Saat aku menuliskannya dengan semangat yang begitu menyala dan ambisi yang menggebu-gebu. Aku tulis semua harapan dan target yang ingin aku capai pada saat pergantian tahun nanti. Aku ingin tahun 2020 menjadi lebih baik. Aku ingin tahun 2020 menjadi milikku. Aku ingin tahun 2020 berjalan sesuai dengan rencanaku. Aku ingin menjadi yang terbaik dari semuanya di tahun ini. Dan sepertinya, hampir semua orang memiliki resolusi yang sama sepertiku.

Namun, awal tahun ternyata menjadi duka bagi negeri yang menjadi tempat berpijakku saat ini. Bencana banjir melanda wilayah ibukota dan sekitarnya tepat pada tanggal 1 Januari 2020. Sebelumnya, memang sudah terjadi curah hujan tinggi yang melanda Kota Jakarta sejak tanggal 31 Desember 2019 sore. Rumah-rumah hancur terendam air. Mobil dan kendaraan lainnya hanyut terbawa arus. Anak-anak kecil menangis mencari ayah dan ibunya. Orang-orang dewasa berusaha menguatkan diri untuk mencari bantuan kesana-kemari. Benar-benar awal tahun yang begitu kelam dan menyedihkan. Ah, apa mungkin ini sebuah teguran dari Yang Maha Kuasa?

Lalu selanjutnya, mulai terdengar sayup-sayup berita mengenai virus yang belum ditemui obatnya dan menginfeksi hampir seluruh bagian dari penjuru dunia ini. Virus ini meski memiliki rasio kematian yang lebih rendah, namun ia bisa menjangkiti siapa pun hanya dalam seperkian detik saja. Virus ini kecil, bahkan tak bisa dilihat hanya dengan mata telanjang. Tapi virus ini bisa membuat panik dan cemas seluruh penduduk dunia. Virus ini dikenal dengan nama Virus Corona atau Virus COVID-19.



Akhirnya, pemerintah memberi salah satu solusi dengan menganjurkan masyarakat untuk berdiam diri di rumah. Ini bertujuan agar angka penularan COVID-19 tidak semakin meningkat. Toko-toko, pusat perbelanjaan, restoran, dan hampir semua tempat hiburan pun menjadi sepi karena orang-orang banyak yang takut untuk keluar rumah. Tingkat konsumsi pun menurun. Karyawan dan para pekerja menjadi cemas karena susah mencapai target. Ini menyebabkan adanya PHK dan pekerja dengan status unpaid leave dimana-mana. Beberapa perusahaan memilih tutup sementara sampai suasana menjadi kondusif kembali, bahkan ada yang tutup permanen karena tidak sanggup lagi membayar biaya operasional.

Aku sendiri sebelumnya di bulan Februari lalu mendapat pekerjaan baru sebagai seorang 'content creator' di sebuah kedai kopi yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahku. Pekerjaannya memang tidak terlalu sulit karena tidak mengharuskan aku untuk stay di sana setiap hari, hanya saja aku harus menguras pikiranku agar mampu mengeluarkan ide-ide kreatif saat membuat konten. Namun, baru saja menikmati pekerjaan selama tiga bulan, aku sudah dirumahkan karena suasana yang semakin hari semakin tidak kondusif serta konsumen yang lebih banyak memilih untuk mengurangi jajan di luar. 

Hingga sampai detik ini, sampailah aku di enam puluh lima hari di penghujung tahun. Kembali aku merenung tentang apa saja yang telah aku lakukan selama 10 bulan terakhir untuk mencapai resolusi yang sudah aku tuliskan di akhir tahun silam. Apakah tahun ini sudah aku lewati dengan cukup baik? Bagaimana dengan resolusi yang kemarin sudah dituliskan? Apakah aku sudah menjadi lebih baik dari diriku di tahun 2019?

"Tahun ini, diberi kekuatan dan kesempatan untuk bertahan hidup saja aku sudah bersyukur. Tahun ini mungkin menjadi tahun yang sulit dan penuh duka. Bencana ada dimana-mana. Musibah demi musibah datang menguji tak kunjung henti. Waktu berlalu begitu cepat. Bahkan aku tak sadar kalau aku sudah berada di enam puluh lima hari di penghujung tahun."

***

Hanya enam puluh lima hari lagi tersisa sebelum pergantian tahun menuju 2021. Ada beberapa target yang tidak bisa diselesaikan. Juga ada beberapa rencana yang gagal untuk disegerakan. Tidak mengapa. Tidak semua list dalam resolusi harus tercapai saat itu juga, kan? Dari sini, aku kembali belajar tentang bagaimana menerima. Iya, belajar untuk menerima semua takdir yang telah Allah tetapkan bagi setiap hamba-Nya. Takdir yang mungkin tidak sesuai dengan harapanku, tapi bagi Allah itulah yang terbaik. Aku hanya berusaha semampu yang bisa aku lakukan. Bagaimana akhirnya, biarlah Allah yang menentukan.

Enam puluh lima hari di penghujung tahun ini, aku hanya ingin mengucap syukur lebih banyak lagi. Aku sadar, semua musibah dan pesakitan yang aku rasakan, tidak sebanding dengan semua nikmat yang sudah Allah berikan. Tidak seharusnya aku mengeluh dan terus mempertanyakan, "Mengapa Allah memberi ujian ini kepadaku?"

Seharusnya aku sadar, bahwa Allah hendak menguji keimananku ketika ia melimpahkanku musibah dan kesulitan di dunia. Ah, bukankah dunia hanya tempat persinggahan sementara? Bukankah dunia memang tempatnya untuk bersusah payah? Begitu kata salah seorang teman yang pernah mengingatkanku.

Enam puluh lima hari di penghujung tahun ini, aku hanya ingin lebih dekat dengan orang-orang yang menyayangiku. Dengan keluargaku, teman-temanku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang mengasihiku. Kadang, karena terlalu sibuk bekerja ataupun kuliah, aku jadi tak punya waktu cukup banyak pada orang yang mengasihiku. Lagipula, aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa menikmati waktu bersama mereka. Aku juga tidak tau berapa lama mereka akan tetap berada di sampingku. Aku sadar, semakin bertambah usiaku, semakin menua pula papa dan mamaku. Aku tidak tau kapan kematian akan menjemputku atau menjemput mereka, apalagi saat ini sedang ada pandemi yang melanda seluruh dunia. Aku hanya ingin menikmati hidup bersama mereka, orang-orang yang mencintaiku tanpa alasan.

Enam puluh lima hari di penghujung tahun ini, aku ingin berusaha mengembalikan ambisi dan semangat yang dulu pernah menggebu-gebu. Aku memang pernah melakukan suatu kesalahan, tapi bukan berarti aku lantas berdiam diri dan bermuram durja saja sepanjang hari.

Hanya karena merasa insecure, aku tidak boleh mengubur potensi diri yang sudah Allah berikan. Seharusnya aku menyadari bahwa tiap manusia sudah Allah berikan kelebihan dan kekurangan, tidak bisa disamakan antar satu sama lain. Mungkin, aku memang bodoh di suatu bidang, tapi bukan berarti aku tidak punya kesempatan untuk punya masa depan, kan?

Enam puluh lima terakhir di penghujung tahun ini, aku ingin melewatinya dengan lebih baik daripada tiga ratus hari yang sudah dilalui. Bismillah....

You May Also Like

5 Comments