REVIEW BUKU MERANTAU KE DELI [BUYA HAMKA] - MENELUSURI ADAT MATRILINEAL SUKU MINANGKABAU

by - Desember 06, 2020

Judul : Merantau Ke Deli

Penulis : Buya Hamka

Penerbit : Gema Insani

Jumlah Halaman : 192 hlm

ISBN : 9786022507468 (e-Book)

Rate : 4.5/5




Finally, selesai juga membaca salah satu novel dari penulis favoritku, Buya Hamka. Setelah membaca buku Ayah... yang ditulis oleh Irfan Hamka, aku jadi tertarik untuk membaca semua karya dari Buya Hamka. Qadarullah, kemarin aku ketemu salah satu novel yang ditulis oleh beliau di aplikasi perpustakaan digital yang legal dari pemerintahan, i-Pusnas namanya. Judul bukunya adalah Merantau ke Deli. Buku inilah yang nanti akan aku review di postingan ini.

Merantau ke Deli

Buku Merantau ke Deli ini berkisah tentang seorang laki laki yang mengadu nasib di tanah perantauan dengan cara berniaga, Leman namanya. Leman dan Poniyem, seorang wanita asal Jawa yang menjadi istri simpanan mandor di perkebunan tempat ia bekerja, saling bertemu di Deli dan saling jatuh cinta. Akhirnya mereka menikah dan hidup bersama. Leman berasal dari suku minang, sedangkan Poniyem berasal dari suku Jawa yang juga merantau ke Tanah Deli untuk mencari peruntungan nasib.


source: https://www.wikiwand.com/id/Medan_Deli,_Medan


Sebelum menikah, Leman sebenarnya sudah mengetahui konsekuensi dan risiko apa saja yang akan ia terima jika menikah dengan Poniyem. Hal ini dikarenakan adat dari suku minang yang mengharuskan Leman untuk menikah dengan gadis dari suku minang juga. Namun, karena Leman sudah jatuh cinta, maka ia memutuskan untuk tetap menikah dan menerima semua konsekuensinya.

Awal-awal pernikahan terasa berat oleh Leman karena perniagaan yang dia jalankan tidak berlangsung dengan mulus karena Leman sendiri kekurangan modal untuk menambah barang dagangannya. Poniyem mengetahui bahwa suaminya sedang dalam kesusahan, Poniyem pun mengambil inisiatif untuk menyuntikkan modal ke perniagaan Leman dengan cara menjual emas yang dulu pernah ia dapatkan dari mandor. Dengan tambahan modal dari hasil menjual emas milik Poniyem, perniagaan Leman menjadi lebih baik dan lebih ramai dari biasanya. Leman yang sebelumnya berniaga dengan cara 'menjemput bola', kini ia dan istrinya telah memiliki toko sendiri.

Rumah tangga mereka berjalan dengan damai dan penuh cinta. Perniagaan mereka juga berkembang dengan pesat. Ditambah lagi hadirnya Suyono, mantan kuli pekerja di perkebunan yang tidak menambah masa kontrak kerjanya. Leman dan Poniyem akhirnya menerima Suyono menjadi pekerja mereka. Awalnya Suyono hanya sekadar melayani pembeli sebelum akhirnya ia menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Leman.

Konflik dimulai ketika Leman hendak pulang kampung ke daerah asalnya di Minangkabau bersama Poniyem. Poniyem yang berasal dari suku Jawa ini ternyata menjadi aib bagi keluarga Leman karena ia bukan dari suku minang. Meskipun Poniyem bersikap lembut dan baik budinya, tetap saja keluarga Leman ingin Leman memiliki istri yang juga dari suku minangkabau. Apalagi ketika melihat Leman sudah menjadi saudagar di tanah rantau. Keluarga Leman takut apabila nanti Leman meninggal, maka harta pusaka Leman akan jatuh ke tangan Poniyem.

Leman mendapat saran dari orang kampungnya untuk menikah lagi dengan seorang wanita asli minangkabau yang juga merupakan orang kampungnya. Leman dilema, apakah ia harus menikah lagi atau tidak dan tetap bertahan dengan Poniyem. Sekalipun ia menikah lagi, ia tidak ingin menceraikan Poniyem karena wanita itulah yang sudah menolongnya menjadi seperti sekarang ini. Bagaimana kelanjutannya? Jawaban dari pertanyaan ini bisa kamu dapatkan dengan membaca buku Merantau ke Deli karangan Buya Hamka😊

Menelusuri Adat Suku Minangkabau

Merantau ke Deli adalah novel karangan Buya Hamka mengenai kritik beliau terhadap adat dari suku minangkabau. Dalam adat istiadat minangkabau, seorang laki laki minang yang akan menikah dengan wanita bukan dari minang tidak dianjurkan karena dapat merusak adat istiadat. Penerus dari suku minangkabau itu sendiri berasal dari pihak ibu. Jadi, kalau wanita minang yang menikah dengan laki laki bukan minang, ini tidak terlalu jadi masalah karena penerus suku berasal dari pihak wanita. Hal ini pula yang terjadi pada Leman dan Poniyem, dimana Leman adalah laki laki minang dan Poniyem adalah wanita asal Jawa. Suatu adat yang mengatur alur keturunan dari pihak ibu disebut dengan istilah Matrilineal.


source: https://dna-explained.com/2018/11/28/concepts-paternal-vs-patrilineal-and-maternal-vs-matrilineal/


Dalam adat matrilineal, seorang anak menghubungkan diri dengan ibunya (berdasarkan garis keturunan perempuan). Dalam sistem kekerabatan ini, seorang anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ibu berdasarkan garis keturunan perempuan. Dalam masyarakat yang susunannya matrilineal, keturunan menurut garis ibu dipandang sangat penting, sehingga menimbulkan hubungan pergaulan kekeluargaan yang jauh lebih rapat diantara para warganya yang satu keturunan menurut garis ibu yang menyebabkan tumbuhnya konsekuensi yang lebih besar daripada garis keturunan bapak (Wikiwand).

Ternyata, ga cuma suku minang yang menganut adat Matrilineal ini loh. Beberapa suku lain selain suku minang yang juga menganut adat matrilineal dikutip dari situs Wikiwand, yaitu:

1. Suku Garo (tinggal di negara bagian timur laut India)

2. Suku Mosuo (tinggal di barat daya Cina)

3. Suku Hopi (masyarakat Indian di Amerika Serikat)

4. Suku Navajo (masyarakat Indian Navajo di Amerika Serikat)

5. Suku Iroquois (masyarakat Indian Iroquois di Amerika Serikat)

6. Suku Ovambo

7. Suku Akan (sebagian besar tinggal di Ghana)


Hikmah dari Buku Merantau ke Deli

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari buku Merantau ke Deli ini. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Jangan pernah menuruti hawa nafsu semata. Sebelum memutuskan sesuatu, pikirkan dulu matang-matang baik buruknya jika keputusan tersebut diambil. Jangan seperti Leman, yang memutuskan suatu perkara hanya dari nafsunya saja tanpa mempertimbangkan baik-buruk risikonya.
  2. Perihal rumah tangga; baiknya kita tidak mengambil keputusan yang hanya sekadar menyenangkan sanak kerabat saja. Ambillah keputusan yang kira-kira kita bisa menjalaninya, bukan hanya sekadar saran atau paksaan dari sanak keluarga saja. Karena menikah adalah ibadah terlama di dunia dan harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya.
  3. Dalam rumah tangga, jika kita merasakan bosan atau jengkel kepada pasangan, maka ada baiknya kita mengingat semua hal-hal indah yang dulu pernah dilakukan bersama. Jangan seperti Leman ketika menghadapi Poniyem saat ia sedang merasa sangat marah.
  4. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Seperti Poniyem yang awalnya hanya simpanan mandor, kemudian ia bertemu Leman dan ia bertahap memperbaiki dirinya. Ia memakai kerudung dan menggunakan baju yang sopan serta santun dalam bergaul.
  5. Ketika awal mula memulai berbisnis, maka banyak-banyaklah berhemat. Jangan boros supaya uang yang didapatkan bisa diputar lagi untuk modal. Hal inilah yang dilakukan oleh Poniyem selama ia berbisnis bersama Leman dan Suyono.
  6. Selalu jujur dalam bekerja dan berusahalah dengan sebaik-baiknya. Seperti Suyono yang akhirnya mendapat kepercayaan penuh dari Leman dan Poniyem untuk bekerja dengan mereka.

***

Overall, aku suka dengan buku Merantau ke Deli ini. Novel yang ringan dibaca tapi isinya berbobot. Setelah baca buku ini, aku jadi sedikit tau tentang adat istiadat suku minang dalam hal pernikahan. Di zaman sekarang ini, aku kurang tau apakah masih banyak suku minang yang mempertahankan adat matrilineal ini. Kalau ada atau tidaknya, sepertinya masih ada, namun tidak diketahui jumlahnya dengan pasti.

Hal lain yang aku suka dari buku ini adalah bahasanya. Bahasa yang digunakan masih menggunakan padanan bahasa daerah. Sehingga ketika membaca buku ini bisa sembari menambah kosa kata bahasa daerah😀

***

“Karena sudah demikian mestinya hidup itu, habis kesulitan yang satu akan menimpa pula kesulitan yang lain. Kita hanya beristirahat buat sementara guna mengumpulkan kekuatan untuk menempuh perjuangan yang baru dan mengatasinya. Sebab itulah maka tak usah kita menangis diwaktu mendaki, sebab di bau pucak perhentian pendakian itu telah menunggu daerah yang menurun. Hanya satu yang akan kita jaga di sana, yaitu kuatkan kaki, supaya jangan tergelincir. Dan tak usah kita tertawa di waktu menurun, karena kelak kita akan menempuh pendakian pula, yang biasanya lebih tinggi dan menggoyahkan lutut dari pada pendakian yang dahulu. Dan barulah kelak di akhir sekali, akan berhenti pendakian dan penurunan itu, di satu sawang luas terbentang, bernama maut.

Di sana akan bertemu alam datar, tak berpendakian, tak berpenurunan lagi.”

Hamka - Merantau ke Deli













You May Also Like

3 Comments