Kesetiaan Murid pada Sang Guru (Jalsah Buldan Dauroh Shaifiyyah 27 )

Agustus 24, 2021


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


🌹Jalsah Buldan Dauroh Dar-Zahra Shaifiyyah 27 🌹

⌚Kamis, 15 Juli 2021 M/5 Dzulhijjah 1442 H

🔖Ustadzah Alina Almunawwar


*Kesetiaan Murid pada Sang Guru*

Poin-poin yang disampaikan oleh Ustadzah Alina Almunawwar kurang lebih adalah sebagai berikut:

  • Ketika kita sedang berada di majelis ilmu, kosongkan hati agar ilmu tersebut bisa masuk. Ibarat gelas yang sudah penuh, tidak akan bisa lagi diisi air. Seperti itu juga ketika kita akan menuntut suatu ilmu.
  • Ketika berbicara tentang kesetiaan seperti judul majelis pada hari ini, pastikan rasa setia itu harus bermula dari cinta. Karena dari cinta itulah kita bisa berkumpul bersama di sini. Dengan cinta itu juga, Allah menginginkan dzat-Nya dikenali oleh para hamba-Nya.
  • Tujuan dari kita diciptakan di dunia ini tidak lain hanya untuk beribadah. Seperti firman Allah yang termaktub pada Q.S 51:56 berikut,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

 

  • Para ulama ahli hakikat mengatakan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk mengenalkan dzatnya Allah, mengenal kebesaran Allah, mengenal Rahmat Allah, dan mengenal Keagungan Allah.
  • Kalimat istirja' إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) biasa hanya digunakan ketika dalam keadaan duka cita. Padahal seharusnya kalimat ini menjadi wirid harian. Maka dari itu, biasakan mengucapkan kalimat istirja' untuk wirid harian, bukan hanya berita kematian. Agar kita senantiasa mengingat bahwa kita tidak hidup dengan keinginan sendiri, tapi Allah yang mengatur segala urusan kita, Allah yang menetapkan aturan untuk kita. Agar kita senantiasa selalu mengingat Allah SWT. Karena hanya Allah yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Berbeda dengan manusia, sekalipun manusia tersebut adalah manusia yang kita cintai. Manusia yang kita cintai bisa meninggalkan kita, tetapi Allah akan selalu membersamai kita dimanapun kita berada.
  • Perjalanan hidup kita dapat dianalogikan seperti anak tangga. Yang mana kita tau bahwa untuk menuju lantai atas, kita harus memulai dari lantai bawah. Lantai bawah ini bisa dimaknai sebagai fitrah kita sebagai muslim. Hingga sampai ke tangga yang terakhir dimana tangga terakhir itu bermakna akhir kehidupan yaitu Husnul Khatimah. Untuk menaiki tangga itu, kita butuh melakukan amalan atau ibadah. Dan untuk beribadah, kita membutuhkan ilmu serta guru yang dapat mengajarkan kita.
  • Allah telah memberi tahu bagaimana keadaan manusia, dimana keadaan manusia itu seperti surah Al-Asr. Semua orang akan merugi kecuali mereka yang beramal soleh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran.
  • Guru adalah pembimbing kita dan penunjuk jalan kita menuju Allah SWT. Namun, guru yang seperti apa yang kita butuhkan?
  • Barang siapa yang tidak duduk dengan seorang guru yang arif pada zamannya, maka ia akan bangkit dengan keadaan bangkrut dimana bangkrut di sini adalah bangkrut iman dan ihsan (Ustadzah Alina Almunawwar).
  • Bagaimana jika seseorang tersebut belum memiliki guru? Sebenarnya guru itu ada. Namun, kita yang harus mencari dimana guru tersebut berada. Percayalah, ketika kita bersungguh-sungguh untuk mendekat kepada Allah, maka Allah akan hadirkan guru untuk kita.

Apa Beda Guru dengan Murabbi?
  1. Syekh Taalim: Guru yang mengajarkan suatu ilmu (syekh taalim) adalah guru yang mengajarkan segala ilmu seperti guru sekolah (ilmu duniawi).
  2. Syekh Tabarok : Guru yang kita datangi dengan tujuan mengambil berkah contohnya seperti guru ngaji di dekat rumah kita.
  3. Syekh Tahkim (Syekh Murabbi) : Murabbi Ruhii, lebih mengajarkan ilmu batin daripada ilmu dzohir.

Tanda seseorang itu adalah Murabbi menurut Imam Al-Haddad:
  1. Mereka adalah orang orang yang sudah terlebih dahulu sampai ke Allah SWT dan mampu menyampaikan muridnya tersebut kepada Allah SWT.
  2. Memiliki akal yang sempurna.
  3. Memiliki hati yang lapang.
  4. Mereka adalah orang yang tau bagaimana cara bermuamalah dengan para muridnya.
  5. Mereka termasuk ke dalam golongan yang shalih.
  6. Mereka tau betul bagaimana syariat Allah.
  7. Mereka adalah orang yang berjalan di jalan Allah dan Rasulullah(ﷺ).
  8. Mereka adalah orang orang yang telah mencicipi nikmatnya makrifat kepada Allah.
  9. Mereka adalah orang yang senantiasa membimbing dan menjadi petunjuk jalan bahkan setelah mereka meninggal.

Bagaimana cara bermuamalah dengan yang dengan para guru?
  • Menurut Imam Al-Haddad, sebagai seorang murid kita harus bermuamalah yang baik dengan guru. Caranya adalah dengan memiliki sifat husnudzon kepada guru tersebut. Suatu karunia bagi seorang murid adalah ketika Allah menutupi aib guru dari diri mereka sendiri (murid). Dan saat Allah membuka aib tersebut, maka yang harus kita lakukan adalah berhusnudzan dengan guru tersebut. Dengan memiliki prasangka baik dengan para guru, Insya Allah ilmu yang kita dapatkan akan diridhoi oleh guru tersebut dan Allah SWT. Ridho guru menjadi keberkahan bagi seorang murid.

  • Rasulullah adalah guru terbaik dan pimpinan terbaik dari semua guru yang ada di dunia. Rasulullah(ﷺ) senantiasa menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmu kepada umat umat selanjutnya yang sebelumnya telah Rasulullah (ﷺ) ajarkan. Dari sinilah berlangsung sanad (mata rantai) keilmuan sampai di zaman kita hari ini. Sanad keilmuan harus dijaga untuk menjaga ilmu dari Allah melalui perantara Rasulullah(ﷺ). Sebab itu Allah menjadikan Rasulullah(ﷺ) sebagai suri tauadan terbaik. Adanya sanad ini Insya Allah, ilmu syariat akan terus terjaga.
  • Kita semestinya berpikir dengan cara pikirnya Nabi Muhammad(ﷺ). Tahukah kamu bahwa kiblat dari ruh adalah Rasulullah(ﷺ) dan kiblat dari jasad adalah Kakbah.
  • Belajar ilmu syariat islam tidak bisa asal sembarang mengambil dari siapapun. Tidak bisa hanya sekadar ambil baiknya buang buruknya. Tapi juga harus berdasarkan silsilah, berdasarkan sanad, agar tersambung ilmu tersebut dengan Rasulullah(ﷺ). Sanad keilmuan ini dapat diibaratkan seperti aliran listrik yang saling sambung menyambung. Jika aliran listrik terputus dan saat itu kita ingin charger handphone, maka chargernya tidak akan menyala. Kenapa? Karena aliran listriknya tidak bersambung. Sama seperti ketika kita akan belajar ilmu syariat islam. Jika kita tidak belajar kepada guru yang tidak memiliki sanad, atau belajar melalui google tanpa adanya guru yang membersamai, atau belajar dengan guru yang sanadnya terputus dari Rasulullah(ﷺ), maka ilmu tersebut akan terputus dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah(ﷺ).

Ketika seorang manusia ingin belajar ilmu agama, maka ada tiga hal yang harus dia lakukan:
  1. Mencari guru yang memiliki sanad bersambung dengan Rasulullah(ﷺ). Bagaimana bisa kita bisa belajar agama dengan guru yang sanadnya tidak bersambung dengan Rasulullah(ﷺ)? Barangsiapa yang belajar agama selain dari Rasulullah(ﷺ), maka dia akan tersesat.
  2. Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Hati). Belajar ilmu syariat tidak cukup hanya dengan ilmu saja. Sabda Rasulullah(ﷺ), "Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak semakin bertambah takut kepada Allah, maka Allah akan membuat hamba itu semakin jauh dari-Nya." Hikmah dari Rasulullah(ﷺ) membacakan ayat ayat kepada para sahabat adalah untuk membersihkan hati mereka. Ketika hati mereka sudah suci dan bersih, baru diajarkan kitab dan diajarkan hukum hukum yang termaktub dalam Al-Qur'an. ILMU SAJA TIDAK CUKUP! Barangsiapa yang diberikan ilmu, maka sebenarnya dia sedang mendapat sedikit. Barangsiapa yang diberikan hikmah, maka dia sudah diberikan banyak. Itulah mengapa sebagai murid, kita harus senantiasa melakukan tazkiyatun nafs seperti misalnya; membiasakan untuk membaca wirid, melakukan qiyamullail, dsb. Ada suatu kisah dimana seorang murid ingin belajar namun ternyata dia tidak melakukan qiyamul-lail. Akhirnya, murid tersebut disuruh pulang dulu untuk melakukan sholat qiyamul-lail.Imam Ghozali dalam Bidayatul Hidayah mengatakan bahwa niat yang lurus.dalam menuntut ilmu adalah kunci utama. Jika niatnya salah, maka sesungguhnya dia telah menjadi bagian dari orang orang yang menghancurkan agamanya sendiri
  3. Mahabbatil Mu'alim. Semakin mencintai guru, maka Insya Allah akan semakin bermanfaat pula ilmu tersebut. Ridho guru adalah kunci dari kebermanfaatan suatu ilmu. Ketika kecintaan kepada guru berbuah keikhlasan, maka dia akan spontan melakukan apapun untuk memuliakan gurunya. Percayalah, sesuatu yang berasal dari hati Insya Allah akan sampai ke hati juga. Kecintaan kepada guru, meski tidak tampak, akan Allah sampaikan kepada guru tersebut.

  • Sebagian besar murid banyak yang menganggap bahwa mereka "sudah membayar" biaya untuk mengikuti pesantren ataupun membayar untuk mengikuti dauroh. Sehingga kurang rasa hormatnya pada sang guru.
  • Ilmu itu mahal. Ilmu itu derajatnya tinggi di sisi Allah SWT. Maka jangan pernah berhitung dengan ilmu.
  • Kita harus memberi penghargaan pada kemuliaan ilmu yang dititipi oleh Allah kepada guru kita beserta sanad yang dipelihara oleh guru tersebut. Karena guru kita pun juga belajar dengan guru guru mereka dan mereka pun mengeluarkan uang untuk mendapatkan ilmu tersebut.
  • Hanya orang orang yang memiliki kemuliaan yang akan dimuliakan juga oleh orang lain (Ustadzah Alina Almunawwar)
  • Seorang Murabbi tidak pernah melepas muridnya dalam keadaan apapun. Ingatlah, ketika mempelajari ilmu agama, bukan perihal dimana jasad itu berada. Betapa banyak yang dekat wujudnya, tapi pada hakikatnya mereka berjauhan. Pun Sebaliknya. Betapa banyak yang jauh wujudnya, tapi ternyata hakikatnya dekat.

Bagaimana cara kita agar dapat bersalaman dengan guru-guru kita melalui hati (dengan kata lain, bersambung dengan guru)?
  1. Mutobaah Rasulullah(ﷺ) dengan cara berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah(ﷺ). Sebab, jika kita tidak melakukan sunnah-sunnah Rasulullah(ﷺ) terutama yang sudah diajarkan kepada kita, retaklah hubungan kita dengan guru-guru kita.
  2. Bersegera menyelesaikan perintah guru.
  3. Memuliakan guru dengan turut memuliakan terhadap apa-apa yang dimuliakan oleh guru tersebut.

  • Yang dikatakan setia itu ketika kita diperintahkan, kita langsung mengerjakan tanpa banyak bertanya ini-itu. Kesetiaan murid kepada guru bergantung pada semangat dalam membina dan menguatkan hubungan dengan sang guru.
  • Kalau hanya sekadar cari ilmu, ada yang lebih pintar. Namun kenapa kita berkumpul di sini (daurah dar zahra shaifiyyah 27)? Kita berkumpul di sini untuk mendapatkan tarbiyah dan penyucian hati dengan guru-guru yang memiliki sanad langsung kepada Rasulullah(ﷺ).

SESI PERTANYAAN

Bagaimana adab kita ketika ingin memberi hadiah kepada guru? 
Jika ingin memberikan hadiah pada guru, berikanlah sesuatu yang sedang mereka butuhkan agar guru tersebut bahagia ketika mendapat hadiah tersebut. Kita bisa mencari tahu dari orang yang dekat dengan guru kita semisalnya dengan anak-anak beliau, teman atau saudari belaiu, dan sebagainya. Karena tujuan memberi hadiah kepada guru adalah mendapat ridho Allah SWT. 

Bagaimana adab bertanya dengan guru laki-laki/ustaz/para habaib?
Akhlak kita ketika ingin bertanya pada sang guru laki-laki adalah dengan bertanya kepada istrinya atau dengan anaknya atau dengan orang yang menjadi mahramnya agar tidak menimbulkan fitnah."

Bagaimana bila kita merasa tidak mampu dengan apa yang diperintahkan oleh guru?
Maka kita sebagai murid harus menyerahkan diri. Bila kita masih merasa seperti itu, berarti kita masih ragu terhadap guru kita tersebut. Jangan berpikir tidak mampu, tapi serahkan saja. Sebagai seorang murid harus bersegera melakukan perintah guru tanpa menimbang apakah kita mampu atau tidak. Kalau masih ragu berarti kita belum menjadi murid yang sesungguhnya.


والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ 


You Might Also Like

0 Comments