Cerita Dauroh Dar Zahra Shaifiyyah 27 (Part 1; Mengapa?)

Agustus 10, 2021

Setiap yang mengikuti dauroh adalah bagian dari dar zahra.
Kamu tidak pulang dari dar zahra.
Tapi kamu pulang bersama dengan dar zahra.

***


Sungguh merupakan pengalaman paling indah dan tak akan pernah terlupakan ketika mengetahui bahwa Allah memberi kesempatan kepada diri yang hina lagi faqir ini untuk mengikuti serangkaian kegiatan Dauroh Dar Zahra/Daruzzahro Asshaifiyyah #27 selama 40 hari lamanya. Hal ini menjadi pengalaman pertama bagiku sebab aku sama sekali tidak memiliki pengalaman tinggal di pesantren atau menjadi seorang santriwati. Dauroh Daruzzahro Asshaifiyyah 27 ini adalah babak baru dalam perjalanan hidup dari seorang hamba yang hina ini dimulai.

Aku ingat sekali, tahun 2018 hingga 2020 pertengahan silam, berbekal rasa penasaran, aku mengikuti kajian yang saat itu ramai dibagikan melalui kanal media sosial instagram. Aku yang saat itu tidak tau apa-apa, terus mengikuti kajian tersebut bahkan mengajak serta teman. Sebenarnya, saat mengikuti kajian, aku sering berdebat dengan pikiranku sendiri. Bertanya-tanya apakah ini adalah jalan yang benar? Mengapa ada beberapa prinsip yang bertentangan dengan apa yang aku yakini dan diajarkan padaku dulu? Sampai pada akhirnya, aku mendapat teguran dari salah seorang teman SMP, beliau berkata kurang lebih seperti ini;

"Ayu, kamu ikut kajian itu? Sebaiknya, kamu ikut majelis yang di sini saja."

Pluk. Aku terdiam tersadar, merenung. Aku segera meninggalkan kajian itu dan tidak mengikutinya lagi sampai beberapa bulan. Selama tidak mengikuti kajian itu, aku merasa hampa dan kebingungan.

Allah... Apakah selama ini aku sudah keliru dalam mengambil jalan? Jalan mana yang harus hamba ikuti, Ya Rabb? Jalan mana yang Engkau Ridhai? Siapakah yang harus hamba ikuti? Kemana hamba harus mencari seorang guru yang dapat membimbing hamba? 

Qadarullah, suatu hari aku mendapat informasi dari salah seorang teman tentang dimana tempat aku bisa menemukan guru untuk belajar syariat islam. Bukan hanya belajar tentang syariat islam saja, tapi di sana juga akan diajarkan bagaimana tazkiyatun nafs, bagaimana mengontrol hati, juga bagaimana membersihkan hati dari berbagai penyakit hati. Di sana sebutannya bukan kajian, tetapi majelis ilmu

Kemudian, di bulan Juni 2021 yang lalu, Allah memberiku petunjuk kembali melalui pamflet Dauroh Daruzzahro. Saat itu aku masih awam tentang Tarim bahkan tentang Daruzzahro itu sendiri. Aku hanya tau tentang Darul Musthofa dan itupun aku tau dari kanal media sosial Pondok Sanad yang saat tahun 2020, memang ada menyelenggarakan program Dauroh daring. Baru di tahun 2021 ini ada program Dauroh Daruzzahro yang diadakan oleh Adzkar (sebutan untuk para asatidzah yang merupakan alumni Daruzzahro wilayah Indonesia, Malaysia, Singapore, dsb) secara virtual.

Dauroh Daruzzahro Asshaifiyyah #27 adalah salah satu jawaban ketika aku sedang bingung harus kemana kaki ini melangkah. Siapakah gerangan yang harus aku turuti langkahnya agar aku dapat lebih mengenal agamaku sendiri. Dauroh Daruzzahro Asshaifiyyah #27 adalah tempat dimana aku menemukan sosok guru, sosok murabbi yang tidak hanya mengajarkanku ilmu syariat, namun juga mengajarkanku cara menyucikan hati dari apa-apa yang tidak Allah ridhai. Mengajarkanku bagaimana cara mencintai Allah dan juga kekasih-Nya, Baginda Sayyidina Rasulullah SAW. Sebab, tidak bisa sampai ke Allah jika bukan melalui Baginda Sayyidina Rasulullah SAW. Sudahkah aku mencintai Nabiku, Nabi Muhammad SAW, yang menangisi umatnya? Yang senantiasa mengkhawatirkan umatnya? Menyimpan doanya untuk dijadikan syafaat bagi para umatnya? Yang selalu merindukan umatnya? Sudahkah aku mengenalinya dan mencintainya dengan sebenar-benarnya cinta? Sudahkah aku mengikuti jalan Nabiku? Sudahkah aku menaati sunnah-sunnah yang diajarkan Nabiku? Apakah aku pantas untuk diakui sebagai UMAT Nabi Muhammad SAW? 

Allah.. Allah.. Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, memberi hamba-Nya yang faqir dan lemah ini sebuah kesempatan untuk mengikuti dauroh daruzzahro walaupun dalam mode virtual. Tapi, seperti pesan yang sudah disampaikan oleh Sayyidil al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, 

"Betapa banyak yang dekat, namun hakikatnya jauh. Begitu pun banyak yang jauh, namun hakikatnya berdekatan."

Sadar, bahwa aku sudah berjalan terlalu jauh dari Yang Maha Pemberi Petunjuk. Sadar bahwa aku sudah tersesat dalam kejahilan. Sadar bahwa diri ini sudah banyak melakukan maksiat. Sadar bahwa diri ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena Allah yang memberikan petunjuk juga kasih sayang-Nya. Sadar bahwa aku hanyalah seorang hamba yang lemah dan juga faqir. Allah... dekatkan hamba-Mu yang faqir ini kepada para pecinta-Mu yang bisa mengajarkan bagaimana cara mencintai-Mu dengan sebenar-benarnya cinta...

Mengapa mengikuti Daurah Daruzzahro Asshaifiyyah 27? Ya karena atas kehendak dan kuasanya Allah SWT. Allah yang menggerakkan hati ini untuk turut serta dan mendaftar. Bahkan jika saat itu aku benar menginginkan, namun Allah tak mengizinkan, maka aku tak akan pernah bisa sampai pada daurah. Tidak akan ada peristiwa yang bisa terjadi tanpa izin dari Allah. Takdir dan kuasa Allah yang mengantarkanku ke daurah ini. Meski sebenarnya aku merasa malu, sangat malu. Ya, aku malu sebab aku merasa kecil untuk mengikuti daurah. Apakah aku bisa istiqamah dalam mengikuti daurah? Apakah aku bisa mengamalkan apa yang nanti sudah aku pelajari di daurah? Pantaskah aku yang hina ini berada di antara para hamba-Nya yang shalihah? Pantaskah aku? Hatiku terlampau kotor. Terlampau sering bermaksiat. Hatiku butuh ditambal. Hatiku cacat dan butuh penerang sebab gelap sudah menyelimuti di sana. 

Berada di sini adalah takdir serta bagian dari rencana Allah. Berada di sini juga merupakan nikmat sekaligus ujian, apakah aku akan menjadi hamba yang dapat bersyukur dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau justru malah sebaliknya, menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin takkan terulang dua kali.


Allah, beri aku selalu taufiq dan karunia hidayah-Mu, agar aku tak menjadi hamba yang lalai serta tergelincir dalam hirur pikuk dunia.

Allah, beri aku karunia berupa rasa mahabbah kepada-Mu dan kepada kekasih-Mu, Nabi Muhammad SAW. 


**bersambung ke part selanjutnya**


Note:

Pernah mengikuti dua kajian dengan prinsip yang berbeda, aku mencoba untuk mengingat pesan cinta yang disampaikan oleh al-Habib Ali Al-Jufri dalam salah satu majelisnya "Kita adalah saudara yang disatukan dengan kalimat Laillahailallah." 

Dikarenakan aku adalah orang awam yang masih membutuhkan banyak bimbingan, maka aku memilih untuk mengambil ilmu dengan para guru yang sudah jelas sanad keilmuannya dan sanad ilmunya bersambung langsung kepada Sayyidina Rasulullah SAW melalui Sayyidah Fatimah Azzahra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan para cucu-cucunya Rasulullah SAW. Aku tidak mau mengambil risiko mengambil ilmu dengan mereka yang tidak aku ketahui bagaimana sanad keilmuannya. Karena ini adalah ilmu agama yang tidak bisa sembarangan untuk dipelajari. 

You Might Also Like

1 Comments

  1. ... aku adalah orang awam yang masih membutuhkan banyak bimbingan ...>>> saya juga orang awam, Mbak. Terima kasih telah berbagi.

    BalasHapus