Pentingnya Mujahadah Nafsu - JALSAH HABAIB DAURAH DAR ZAHRA SHAIFIYYAH 27

Agustus 26, 2021

🌹JALSAH HABAIB DAURAH DAR ZAHRA SHAIFIYYAH 27🌹
Sabtu, 17 Juli 2021 M | 7 Dzulhijjah 1443 H
Disampaikan Oleh Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri



Jalsah Habaib bersama Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri adalah Jalsah Habaib ketiga yang diadakan pada kegiatan Daurah Dar Zahra Shafiyyah 27 dengan membahas tema seputar hawa nafsu serta bagaimana cara mengendalikannya. Memang pada hakikatnya, musuh terbesar bagi manusia adalah hawa nafsu. Saking berbahayanya hawa nafsu ini,
Rasulullah(ﷺ) bersabda dalam salah satu haditsnya:

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah(ﷺ) ?Rasulullah(ﷺ) menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu."

Mujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam mengendalikan sesuatu. Nafsu adalah makhluk dari Allah yang telah Allah tetapkan kepada diri dari masing-masing manusia. Maka, Mujahadah Nafs dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk bersungguh-sungguh dalam mengendalikan hawa nafsu.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri menyampaikan bahwasanya barangsiapa yang takut pada Allah, takut pada kedudukan Allah, dan mengekang hawa nafsunya dari keinginan semata, mereka itulah yang nanti tempat kembalinya adalah surga.

Ada lima perkara yang sudah pasti Allah tetapkan pada diri manusia, yaitu:

  • Anggota badan seperti mata, hidung, mulut, tangan, dan lain sebagainya
  • Akal. Akal di sini bukan hanya sekadar otak saja. Otak itu adalah satu dari sekian banyak anggota badan. Sedangkan akal adalah awal permulaan dari kita memahami sesuatu.
  • Nafsu. Nafsu adalah segala kepuasan atau keinginan manusia yang diinginkan.
  • Ruh.
  • Hati. Hati adalah tempat dimana manusia akan membuat keputusan. Dimana keputusan ini akan berubah tergantung bagaimana akal dan nafsu manusia itu sendiri. Itulah mengapa hati disebut dengan qalbun yang memiliki arti berbolak-balik. 

Akal adalah sesuatu yang mampu berpikir dan senantiasa gaduh di dalam diri manusia. Akal dapat mengetahui mana perkara yang benar dan mana perkara yang salah. Melatih akal untuk dapat memutuskan sesuatu perkara bisa didapat dari mempelajari ilmu-ilmu agama. Akal tidak bisa berpikir dengan benar bila terputus dari Al-Qur'an dan juga ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu, untuk melatih akal agar mampu melawan nafsu yang ada di dalam diri bisa dengan mempelajari Al-Quran dan juga ilmu agama.

Ketika kita akan membuat suatu keputusan, kita akan melibatkan hati dan juga akal. Keputusan terakhir antara akal dan juga nafsu terdapat pada hati (qalbun). Itulah alasan kenapa hati sangat mudah berbolak-balik. Sebab keputusan hati tergantung pada bagaimana akal dan nafsu yang terdapat dalam diri manusia tersebut.

Sejatinya, akal dan nafsu senantiasa tidak menjumpai titik temu. Akal sebenarnya mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan memiliki kewajiban di dunia. Sedangkan nafsu lebih berpihak kepada kepuasan diri. Manusia seringkali terjerumus dalam nafsunya sendiri (termasuk alfaqir sendiri).

Kenapa nafsu sifatnya berbahaya? Ada tiga perkara yang menjadikan nafsu berbahaya yaitu :

  • Nafsu yang mengajak pada keburukan.
  • Nafsu itu layaknya musuh dalam selimut. Mengapa dikatakan musuh dalam selimut? Karena nafsu itu adalah musuh yang tidak tampak dan merupakan musuh yang ada dalam diri sendiri.
  • Nafsu itu seperti benda yang memuaskan kita yang menyebabkan kita untuk selalu menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih tanpa pernah merasa puas dan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri mengatakan, bahwasanya untuk melawan nafsu, kita harus bermuhajadah. Sedangkan untuk menguatkan akal, kita harus beribadah. Ada tiga hal yang menjadi pemicu timbulnya nafsu, yaitu:

  • Syaitan
  • Dunia
  • Makhluk

Jika kita tidak tau betapa bahayanya nafsu, kita akan lebih mudah untuk merusak hati dan tidak pula memedulikan kebenaran akal. Itulah sebabnya kita harus tau bagaimana melemahkan nafsu. Salah satu cara melemaskan nafsu adalah dengan menuduh diri sendiri, "Kau berbuat seperti ini karena mau ini, kan?"


Mengapa kita harus melakukan muhajadah?
Mujahadah nafsu sangat penting untuk dilakukan karena jika kita bisa menjinakkan nafsu, kita bisa melakukan kebaikan dan bersedih ketika melakukan maksiat atau kejahatan. Apabila kita tidak dapat menjinakkan nafsu, kita akan lebih mudah meninggalkan kebaikan.


Cara menjinakkan nafsu menurut para ulama':

  • Mengurangi makan.Manusia melakukan aktivitas makan biasanya ada dua alasan, yaitu: untuk memenuhi hajat lapar dan hajat kepuasan (nafsu).
  • Kurangi bercakap-cakap,
  • Kurangi bergaul.

Nafsu memiliki dua sifat, yaitu:

  • Rakus/Serakah.
  • Nafsu seperti hewan.

Semua sifat nafsu itu tidak baik. Kecuali satu sifat yang mengikuti pola kebiasaan. Jika nafsu tersebut dibiasakan untuk berbuat amal dan kebaikan, maka ia akan senantiasa melakukan kebaikan. Tetapi kalau nafsu tersebut dibiasakan untuk berbuat maksiat keburukan, maka ia pun akan senantiasa melakukan keburukan.


Beberapa kisah Mujahadah Pada Zaman Rasulullah(ﷺ) :

  • Sayyidah Aisyah selalu bermuhajadah dengan melakukan puasa dan bersedekah.
  • Ummu dardak, salah satu shahabiyat nabi yang suaminya bernama Abu dardak. Ummu dardak pernah mengumpulkan murid-muridnya untuk melaksanakan qiyamullail sampai ada yg mengatakan kalau mereka qiyamullail sampai bengkak kakinya.
  • Salah satu tabi'in melakukan sholat malam sebanyak 600 rakaat dan selalu menganggap pagi hari adalah pagi terakhirnya dan malam hari adalah malam terakhirnya.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri berpesan, Ketika kita merasa berat melakukan suatu ibadah, ingatlah bahwa rasa berat itu datang dari nafsu. Pun ketika kita sedang duduk dalam suatu majelis ilmu dan kita merasa berat, itu juga datangnya dari nafsu.

Banyak perkara yang harus dimujahadah oleh kaum muslimah. Rasulullah(ﷺ) telah memberitahukan sifat-sifat pada muslimah yang menyebabkan mereka banyak terperangkap ke arah neraka, diantaranya;

  • Senang melepaskan kata-kata yang tidak baik dan keji. Kata-kata itu terkadang sampai melaknat orang lain. Oleh karena itu, sebagai seorang muslimah, berlatihlah untuk mengucapkan kata-kata baik.
  • Sering lupa pada kebaikan dan budi seseorang. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga dimana istri sering melupakan kebaikan suami hanya karena suami melakukan suatu kesalahan.
  • Rasa malu. Sebagai seorang muslimah, sudah seharusnya untuk memiliki rasa malu. Sebuah kisah dari Sayyidah Ummu Sulaim dapat kita jadikan teladan untuk mencontoh bagaimana sifat malunya para muslimah di zaman Rasulllah(ﷺ). Sayyidah Ummu Sulaim pernah menanyakan kepada Rasulullah(ﷺ) berapa panjang kain yang bisa dipanjangkan untuk menutupi kaki muslimah. Rasulullah(ﷺ) pun memberi tahu bahwa panjang kain tersebut tidak boleh lebih dari satu hasta.

SESI TANYA JAWAB

Apa perbedaan di antara hawa nafsu dan syahwat?
Hawa nafsu lebih kepada keinginan. Sedangkan syahwat lebih kepada kepuasan.

Apa perbedaan antara bisikan syaitan dan nafsu?
Syaitan membisikkan kepada kejahatan dan keburukan. Sedangkan nafsu, bila ingin sesuatu, dia hanya ingin itu. Dan tidak akan berhenti sampai dia mendapat hal itu. Bisikan syaitan bisa dilawan dengan dzikir. Tapi nafsu dilawan dengan melakukan dialog kepada nafsu itu sendiri, memarahinya, serta melawannya.

Kapan saat yang tepat untuk melakukan mujahadah?
Kapan kita merasa makanan itu yang paling enak? Apabila dimakan saat lapar. Kapan tidur yang paling enak? Apabila tidur setelah penat. Kapan kita bermuhajadah? Ketika kita sudah merasa bersungguh-sungguh beribadah, bersungguh-sungguh dalam sholat. Contohnya misal, ketika kita akan melakukan mujahadah saat sholat. Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz radhiyallahuanhu mengatakan cara sholat menjadi khusyu' yaitu kita paksa untuk bisa khusyuk, paksa tau apa yang kita baca, rasakan diri kita bermuhajadah ketika kita sedang sholat.


Wallahu'alam bisshawab.

You Might Also Like

1 Comments

  1. Pencerahan yang sangat bermanfaat. Terima kasih ananda Rizky.

    BalasHapus